UNIVET Bantara Gelar Seminar Nasional Pencegahan Kekerasan Seksual, Libatkan ORMAWA dan Pelajar SMA/SMK

Sukoharjo – Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET Bantara) melalui BEM menyelenggarakan Seminar Nasional Pencegahan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi sebagai bagian dari komitmen universitas dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 10 Juli 2026 di Auditorium UNIVET Bantara ini diikuti sekitar 600 peserta secara luring dan daring.

Peserta seminar terdiri atas mahasiswa pengurus Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) UNIVET Bantara, serta siswa SMA/SMK/MA sederajat se-Kabupaten Sukoharjo yang dipersiapkan menjadi generasi muda dengan pemahaman tentang pentingnya pencegahan kekerasan seksual sejak dini.

Seminar nasional bertema “Kekerasan Seksual di Kampus: Fenomena, Dampak, dan Strategi Pencegahannya” menghadirkan narasumber dari berbagai institusi yang memiliki kompetensi di bidang pencegahan dan penanganan kekerasan, yaitu Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Sebelas Maret (UNS), Satgas PPK UNIVET Bantara, Lembaga Layanan Psikologi, serta Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Sukoharjo.

Acara diawali dengan sambutan Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) UNIVET Bantara, dilanjutkan sambutan Presiden Mahasiswa BEM UNIVET Bantara, Banu Aji Wicaksono, dan secara resmi dibuka oleh Rektor Universitas Veteran Bangun Nusantara, Prof. Dr. Farida Nugraheni, M.Hum.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh sivitas akademika. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang belajar yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, maupun intimidasi, sehingga setiap mahasiswa dapat berkembang secara optimal.

“Setiap warga kampus berhak memperoleh perlindungan, pendampingan, dan keadilan apabila mengalami tindak kekerasan. Karena itu, pencegahan harus dilakukan melalui edukasi yang berkelanjutan dan kolaborasi seluruh elemen kampus,” ungkap Prof. Farida.

Pada sesi utama seminar, Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si., Ketua Satgas PPK Universitas Sebelas Maret, memaparkan berbagai bentuk kekerasan seksual yang dapat terjadi di lingkungan perguruan tinggi, dampaknya terhadap korban, serta strategi pencegahan dan penanganan yang berorientasi pada perlindungan korban. Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya kampus yang aman, inklusif, dan memiliki sistem pelaporan yang mudah diakses.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Dr. Bildy Saputra, S.Pd., M.Pd.Kons., Sekretaris Satgas PPKPT   UNIVET Bantara. Ia mengajak mahasiswa untuk menjadi active bystander, yaitu individu yang berani bertindak ketika mengetahui adanya indikasi kekerasan. Selain itu, ia menjelaskan bahwa mekanisme pelaporan di lingkungan universitas menjamin kerahasiaan identitas pelapor maupun pihak-pihak yang terlibat sesuai ketentuan yang berlaku.

Perspektif psikologis disampaikan oleh Budhy Lestari, S.Psi., Psikolog, yang menjelaskan dampak trauma yang dialami korban kekerasan seksual serta pentingnya layanan pendampingan psikologis agar korban dapat kembali menjalani aktivitas akademik dan sosial secara optimal.

Sementara itu, Miftah Candra Ardhi, Kepala Bidang Perlindungan Anak DPPKBP3A Kabupaten Sukoharjo, memaparkan perkembangan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih memerlukan perhatian serius. Ia menegaskan bahwa penanganan kasus membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, UPTD PPA, dan aparat penegak hukum agar setiap korban memperoleh perlindungan sesuai kewenangan masing-masing lembaga.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa dan pelajar mengenai mekanisme pelaporan, perlindungan terhadap korban, hak-hak saksi maupun terlapor, hingga upaya membangun budaya saling menghormati di lingkungan pendidikan. Para narasumber sepakat bahwa setiap penanganan kasus harus mengedepankan prinsip keadilan, objektivitas, perlindungan korban, serta penghormatan terhadap hak semua pihak.

Melalui penyelenggaraan seminar nasional ini, UNIVET Bantara menunjukkan komitmennya dalam memperkuat implementasi kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa pengurus ORMAWA sebagai agen perubahan sekaligus memberikan pemahaman kepada pelajar SMA/SMK sederajat sebagai calon mahasiswa mengenai pentingnya membangun budaya kampus yang aman sejak sebelum memasuki dunia perguruan tinggi.

UNIVET Bantara berharap kegiatan ini mampu memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, tenaga profesional, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang menghormati martabat manusia, menjunjung nilai-nilai kesetaraan, serta bebas dari segala bentuk kekerasan. Edukasi yang berkelanjutan diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang berani mencegah, melapor, dan menjadi bagian dari solusi dalam mewujudkan kampus yang aman, inklusif, dan berintegritas.

You may also like...